Agustus 22, 2023  •  10 Menit Baca

11 Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Bali Penuh Makna

pernikahan adat bali

Bali sering dikenal dengan keindahan alamnnya. Tetapi tidak hanya sampai disana saja, Bali juga memiliki kebudayaan yang unik berbeda dari daerah lainnya di Indonesia. Sebagai salah satu provinsi dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, terdapat prosesi pernikahan adat Bali yang berbeda dari yang lainnya.

Beberapa orang datang ke Bali tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga ada beberapa pasangan yang berkeinginan untuk melangsungkan pernikahan di Bali. Baik itu dengan konsep modern maupun tradisional ala kebudayaan Bali. Nah, untuk anda yang memiliki keinginan untuk mencoba pernikahan tradisonal Bali, anda harus memahami terlebih dahulu rangkaian pesta pernikahan di Bali. 

Artikel kali ini akan mengulas secara lengkap 11 rangkaian prosesi pernikahan adat Bali untuk anda. 

Prosesi Mesedek

Prosesi pertama dalam acara pernikahan di Bali adalah prosesi Mesedek. Dalam upacara Mesedek ini orang tua dari calon pengantin laki-laki datang ke rumah mempelai perempuan sebagai bentuk perkenalan diri. 

Biasanya hal ini di Indonesia dikenal dengan istilah meminang. Prosesi Mesedek ini memiliki filosofi bahwa pengantin pria memang sungguh-sungguh ingin menjadikan calon pengantin perempuan sebagai pendamping hidupnya. 

Apakah Anda Memerlukan Jasa Planner Pernikahan Profesional?

"(Required)" indicates required fields

✓ Valid number ✕ Invalid number
Hidden

"(Required)" indicates required fields

✓ Valid number ✕ Invalid number
Hidden

Upacara Mesedek ini dilakukan bukan tanpa persiapan. Biasanya sebelum upacara ini dilakukan orang tua kedua belah mempelai sudah bertemu dan membicarakan mengenai persiapan Mesedek ini. Jadi, ketika hari, tanggal, dan bulan prosesi Mesedek ini dilaksanakan, kedua keluarga dari pasangan pengantin ini sudah bersiap.

Medewasa Ayu

Setelah orangtua calon pengantin perempuan menyetujui pernikahan kedua pasangan pengantin ini, maka acara selanjutnya adalah Madewasa Ayu. Dalam prosesi ini, kedua belah keluarga membicarakan mengenai tanggal baik untuk melangsungkan pesta pernikahan.

Masyarakat Bali sangat percaya dengan yang namanya hari baik atau dalam bahasa Bali disebut dengan “Dewasa Ayu”. Tanggal baik ini biasanya bisa dilihat dari perhitungan kalender Bali. Masing-masing kegiatan penting termasuk pernikahan, hari baiknya bisa dilihat melalui kalender Bali. 

Selain melihat dari perhitungan kalender Bali, kedua keluarga juga harus meminta saran dan nasihat dari seorang pemimpin agama (Sulinggih). Nantinya, Sulinggih akan memberikan rekomendasi tanggal yang cocok dengan kedua mempelai.

Prosesi Ngekeb

Upacara ngekeb menggabungkan ritual mandi dan mencuci rambut mempelai wanita dengan luluran khusus. Setelah proses luluran selesai, mempelai wanita menanti dalam kamar pengantin sampai tiba saatnya bagi mempelai pria untuk menjemputnya. Ketika mempelai pria tiba, mempelai wanita dikelilingi oleh selembar kain tipis berwarna kuning dari kepala hingga kaki, melambangkan bahwa ia telah meletakkan masa lalu dan bersiap untuk memulai babak baru kehidupan bersama calon suaminya.

Rangkaian upacara ngekeb memancarkan pesan simbolis yang dalam. Melalui prosesi ini, mempelai wanita secara harfiah dan makna-nya membersihkan diri dari masa lalu, menghadapkan diri pada perubahan dan pertumbuhan. Kain kuning yang melingkupi mempelai wanita saat dipertemukan dengan mempelai pria menggambarkan tekadnya untuk membawa semangat baru dan dedikasi penuh dalam menjalani kehidupan pernikahan yang baru, menjadikan upacara ngekeb bukan hanya seremoni, tetapi juga perwujudan perubahan batin yang mendalam.

Upacara Ngukab Lawang

Upacara Ngukab Lawang adalah sebuah prosesi dimana keluarga calon pengantin pria secara bersama-sama menjemput calon pengantin perempuan. Kemudian setelah dilakukan penjemputan, mereka harus dipertemukan juga untuk menjalani serangkaian ritual yang terdiri dari Pejati dan suci alit, Peras Pengambena, Caru Ayam, Brumbun asoroh, dan lain sebagainya. 

Sebelum melakukan kesembilan rangkaian ini, calon pengantin pria dan wanita menyampaikan syair weda sebagai ekspresi kebersamaan. Di tengah prosesi ini, daun betel atau daun sirih dilemparkan, dengan tujuan menolak energi negatif yang mungkin muncul selama pelaksanaan ritual. Ngungkab lawang, dalam konteks adat pernikahan Bali, melambangkan penghormatan mendalam terhadap keluarga mempelai wanita dan juga mencerminkan harapan untuk membina hubungan suami istri yang penuh harmoni di masa mendatang.

Ritual Medagang-Dagangan

Ritual berikutnya adalah medagang-dagangan, yang secara lokal dikenal sebagai berdagang dalam bahasa Bali. Proses ini mengharuskan mempelai wanita dan mempelai pria untuk terlibat dalam tawar-menawar mengenai barang dagangan hingga mencapai tahap pembayaran yang disepakati. Mempelai wanita duduk dengan nyaman di atas serabut kelapa dan mempersembahkan barang dagangan kepada mempelai pria.

Setelah transaksi berhasil, mempelai pria menggunakan keris untuk memotong tikeh dadakan yang dipegang oleh mempelai wanita. Langkah berikutnya adalah pemutusan benang yang diikatkan pada dua cabang pohon dapdap, diikuti dengan mandi suci untuk membersihkan diri. Keseluruhan upacara ini melambangkan doa kepada Sang Hyang Widi agar kelak, ketika tumbuh dewasa, anak-anak mereka diberikan kawigunan atau profesi yang sesuai dengan jalur hidup yang telah terukir dalam garis tangan mereka.

Upacara Makala-Kala

Upacara yang sering disebut dengan upacara pertiwi saksi ini dilakukan oleh kedua pasangan pengantin dengan cara membakar sebuah tetimbug yang diletakkan di atas tungku bata dengan posisi duduk. 

Mungkin anda bertanya-tanya apa tetimbug itu? Tetimbug adalah sebuah bambu yang terdiri dari tiga buah yang memiliki tiga sampai lima ruas diikat menjadi satu. Makna dari ritual ini adalah sebagai bentuk perlindungan bagi kedua calon pengantin agar tidak mendapat gangguan dari bhutakala. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, gangguan dari bhutakala ini dapat menganggu dan menghilangkan kemurnian dari perkawinan.

Ritual Metegen-tegenan dan Suun-Suunan

Ritual berikutnya adalah metegen-tegenan dan suun-suunan. Metegen-tegenan dilakukan dengan mempelai pria yang memikulnya, sementara suun-suunan dipegang oleh mempelai wanita. Keduanya melangkah mengelilingi api suci yang dikenal sebagai sanggah surya, mengikuti arah jarum jam dalam tujuh putaran.

Pada saat ini, pria dan wanita terikat bersama oleh sabuk, dengan pria berada di depan dan wanita mengikutinya di belakang. Dalam prosesi ini, mereka melangkah melalui tujuh langkah saptapadi, di mana setiap langkah mengandung janji pernikahan yang berbeda satu sama lain, diiringi oleh doa yang diucapkan secara lantang. Upacara ini memiliki arti penting sebagai simbol awal perjalanan pernikahan, menandai langkah pertama kedua pengantin dalam mengarungi perjalanan kehidupan bersama yang baru. 

Prosesi Majauman

Majauman adalah suatu acara formal yang mengharuskan pengantin pria mengunjungi rumah mempelai wanita setelah semua rangkaian upacara telah selesai. Nama “jaum” dalam majauman merujuk pada jarum, menggambarkan perannya dalam merajut kembali hubungan antara kedua keluarga setelah mungkin terjadi ketegangan.

Upacara ini secara khusus dilakukan dalam konteks sistem perkawinan ngarorod, yang umumnya terjadi saat terdapat perbedaan pandangan di antara keluarga-keluarga, sering kali berkaitan dengan perbedaan kasta. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, mempelai wanita “dilarikan” ke rumah mempelai pria dan resmi menjadi pasangan suami istri.

Selain itu, majauman juga memiliki tujuan spiritual, yaitu memberitahukan kepada Hyang Guru dan leluhur tentang ikatan pernikahan yang baru terjalin dan memohon perlindungan terhadap ancaman bahaya yang mungkin terjadi di masa depan.

Acara Natab Pawetonan

Natab pawetonan ialah suatu upacara tradisional yang dijalankan dalam kerangka sistem perkawinan mepadik. Ritual ini berlangsung di atas tempat tidur, di mana mempelai pria menyerahkan seserahan berupa barang-barang berharga, termasuk perhiasan dan pakaian, kepada ibu dari mempelai wanita.

Barang-barang berharga ini melambangkan “gantian dari air susu ibu”, menjadi representasi dari harapan bahwa peran ibu dalam merawat, membesarkan, serta melindungi anaknya telah terpenuhi dan saat ini telah berpindah kepada calon suami.

Prosesi Bekal

Bekal (Tadtadan) merupakan sebuah tradisi di mana sekelompok perhiasan atau pakaian ibadah diserahkan oleh seorang ibu kepada anak wanitanya.Upacara ini mencerminkan aspirasi bahwa anak perempuan akan selalu menghargai pengorbanan ibunya yang telah mengalami perjuangan dan kesulitan dalam membawanya ke dunia ini. 

Di samping itu, pakaian ibadah dalam bekalan ini memiliki arti simbolis, menggambarkan harapan bahwa anak perempuan akan tetap berkomitmen untuk beribadah kepada Tuhan yang Mahakuasa.

Acara Mejaya-Jaya

Upacara mejaya-jaya mewakili tahap puncak dalam tradisi pernikahan adat Bali. Acara ini diadakan setelah pasangan pengantin resmi menjadi suami dan istri. Tujuannya adalah untuk menunjukkan harapan akan mendapatkan kemudahan dan bimbingan terus-menerus dari Sanghyang Pramesti Guru.

Usai pelaksanaan upacara mejaya-jaya, pasangan pengantin diminta untuk tinggal di rumah selama tiga hari berturut-turut dan dilarang keluar, sambil mematuhi kewajiban mereka sebagai suami dan istri. 

Aturan ini dirancang untuk mempererat hubungan intim antara pasangan dan memungkinkan suami memberikan nasihat yang berharga kepada istrinya. Tindakan ini juga sebagai wujud penghormatan terhadap keluarga pihak wanita, dengan tujuan menjaga agar ikatan keluarga tetap kuat.

11 Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Bali Penuh Makna

Inilah pembahasan 11 rangkaian prosesi pernikahan adat Bali yang penuh makna. Memang bagi anda yang belum pernah melihat prosesi ini, akan merasa kaget dengan banyaknya rangkaian acara pernikahan adat Bali.

Tetapi rangkaian adat Bali ini biasanya hanya dilakukan oleh masyarakat asli Bali. Buat anda yang memang bukan orang Bali, tapi ingin merasakan pernikahan ala Bali, beberapa vendor bisa memberikan pilihan paket pernikahan berkonsepkan Bali yang lebih sederhana dan disesuaikan dengan kebudayaan anda beserta pasangan. Kami memiliki banyak pilihan vendor pernikahan yang bisa membantu anda menyusun pernikahan impian yang sesuai dengan preferensi anda. Temukan vendor pernikahan yang anda butuhkan sekarang anda di Bali Wedding.

Dewi author at Bali Wedding
Seseorang yang telah berkecimpung di dunia wedding sejak tahun 2020. Menulis berbagai topik tentang pernikahan di beberapa platform digital.

Artikel Terkait

tradisi pingitan adat jawa

Mengenal Tradisi Pingitan Adat Jawa

September 19, 20238 Menit Baca

Seperti Apa Pernikahan Impian Anda?

Hubungi kami sekarang, kami akan memberikan Anda vendor pernikahan terbaik untuk mewujudkan pernikahan impian Anda.